Tuesday, September 29, 2009

AIDILFITRI DIRUMAH PAKTEH PD 26 SEPT 2009

1 SYAWAL di KL., lps solat aidilfitri balik BPAHAT. Anak bujang dengan kakak2nya.

Anak dara sulong Idrus bersama ayah kesayangan.




Raya tahun ni musim H1N1, so berwajah barulah masing2 dgn topeng.

Perkenalkan ahli baru Idrus, MEGA, (Nama sempena mega sales, mega drama, mega movie dan mentega.)



Nazir dr Terengganu bersama keluarga dtg utk berjumpa along.



Intan dan Latif mmg best, jmpt insyaAllah mereka cuba dtg...



Tkasih pd semua adik beradik dan sepupu2 yg dtg barulah meriah....



Ni bersama kumpulan yg kecil dan terlepas kump yg ramai td.


Faris bertokoh nak jd mcm abang farhannya... blh jd bodyguard makteh ke Egypt.

Wednesday, September 16, 2009

PERINGATAN UNTUK PULANG BERHARI RAYA DI JALAN RAYA



BERSABAR KETIKA MEMANDU DAN MEMBELI BELAH


BERHATI-HATI KETIKA SEKIRANYA PERLU MENUKAR TAYAR SENDIRI


PASTIKAN ANAK ANDA BERADA DIDALAM KEADAAN SELAMAT

Thursday, September 10, 2009

Menziarahi Pusara

Salam semua,


Rasulullah saw bersabda:

“Berilah hadiah mayat-mayatmu.” Kemudian kami (sahabat) bertanya: Apa hadiah untuk mayat? Baginda menjawab: “Sedekah dan doa.” (Mafatihul Jinan, pasal 10, hlm 570)



Rasulullah saw bersabda:

“Sesungguhnya setiap Jumaat arwah orang-orang mukmin datang ke langit dunia vertikal dengan rumah mereka, seraya masing-masing mereka memanggil dengan suara yang sedih sambil menangis: wahai keluargaku, anak-anakku, ayahku dan ibuku, kerabatku, sayangilah kami niscaya Allah menyayangi kalian dengan hadiah yang kalian berikan pada kami. Celaka kami (karena harta kami), kami yang dihisab, orang lain yang mengambil manfaat.”



Dalam hadis yang lain Rasulullah saw bersabda:

“Masing-masing mereka memanggil kerabatnya: Sayangi kami dengan dirham atau roti atau pakaian, niscaya Allah menyayangi kalian dengan pakaian dari surga.” Kemudian Rasulullah saw menangis. Kami (sahabat) pun ikut menangis, Rasulullah saw tak kuasa berbicara karena banyaknya menangis. Kemudian beliau bersabda: “Mereka itu adalah saudara kalian dalam agama, mereka hancur menjadi tanah setelah mereka (di dunia) diliputi kesenangan dan kenikmatan. Mereka memanggil dengan seruan: “Celaka kami, sekiranya kami dulu menginfakkan harta kami di jalan ketaatan kepada Allah dan ridha-Nya, niscaya kami tidak perlu bantuan kalian.” Lalu mereka pulang dengan kerugian dan penyesalan, dan mereka berseru: Cepatlah kalian bersedekah untuk mayat kalian.”



Muhammad bin Muslim pernah bertanya kepada Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa): Bolehkah kami berziarah pada orang-orang yang telah meninggal? Beliau menjawab: Boleh. Kemudian aku bertanya lagi: Apakah mereka mengenal kami ketika kami berziarah kepada mereka? Beliau menjawab: “Demi Allah, mereka mengenal kalian, mereka bahagia dan terhibur dengan kehadiran kalian.” Aku bertanya lagi: Apa yang harus kami baca ketika kami berziarah kepada mereka? Beliau menjawab: bacalah doa ini. (lihat doa berikutnya)



Imam Musa Al-Kazhim (sa) berkata:

“Barangsiapa yang tidak mampu berziarah kepada kami (Ahlul bait), maka hendaknya berziarah pada orang-orang shaleh yang berwilayah kepada kami, maka akan dicatat baginya seperti pahala berziarah kepada kami; dan barangsiapa yang tidak mampu menyambung silaturahim pada kami, maka hendaknya menyambung silaturahim pada orang-orang soleh yang berwilayah kepada kami, maka akan dicatat baginya seperti pahala menyambung silaturahim pada kami.”



Imam Ali Ar-Ridha (sa) berkata:

“Barangsiapa yang mendatangi kuburan saudaranya yang mukmin, kemudian meletakkan tangannya pada kuburannya, dan membaca surat Al-Qadar (7 kali), maka ia akan diselamatkan pada hari kiamat.” Dalam hadis yang lain disebutkan: “dan menghadap ke kiblat.”



Syeikh Abbas Al-Qumi (ra) mengatakan: Pahala bacaan surat tersebut untuk orang yang membacanya, juga untuk penghuni kubur yang diziarahi. Karena hal ini dikuatkan oleh hadis-hadis yang lain.



Makruh Ziarah kubur di malam hari

Tentang makruhnya ziarah ke kuburan orang-orang mukmin di malam hari, Rasulullah saw bersabda kepada Abu Dzar: “Jangan sekali-kali kamu berziarah kepada mereka di malam hari.”



Adab dan doa ziarah kubur

Pertama: Ketika memasuki areal kuburan mengucapkan salam.

Abdullah bin Sinan pernah bertanya kepada Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa): Bagaimana cara mengucapkan salam kepada penghuni kubur? Beliau menjawab: Ucapkan:



ayat1



Salam atas para penghuni kubur, mukminin dan muslimin, engkau telah mendahului kami, dan insya Allah kami akan menyusulmu.



Atau mengucapkan salam seperti yang diajarkan oleh Imam Ali bin Abi Thalib (sa):





ayat2

Salam bagi yang mengucapkan la ilaha illallah dari yang mengucapkan la ilaha illallah, wahai yang mengucapkan kalimah la ilaha illallah dengan hak la ilaha illallah, bagaimana kamu memperoleh kalimah la ilaha illallah dari la ilaha illallah, wahai la ilaha illallah dengan hak la ilaha illallah ampuni orang yang membaca kalimah la ilaha illallah, dan himpunlah kami ke dalam golongan orang yang mengucapkan la ilaha illallah Muhammadur rasululullah Aliyyun waliyyullah.



Imam Ali bin Abi Thalib (sa) berkata: “Barangsiapa yang memasuki kawasan kuburan, lalu mengucapkan (salam tersebut), Allah memberinya pahala kebaikan 50 tahun, dan mengampuni dosanya serta dosa kedua orang tuanya 50 tahun.”



Kedua: membaca:

1. Surat Al-Qadar (7 kali),

2. Surat Al-Fatihah (3 kali),

3. Surat Al-Falaq (3 kali),

4. Surat An-Nas (3 kali),

5. Surat Al-Ikhlash (3 kali),

6. Ayat Kursi (3 kali).



Dalam suatu hadis disebutkan: “Barangsiapa yang membaca surat Al-Qadar (7 kali) di kuburan seorang mukmin, Allah mengutus malaikat padanya untuk beribadah di dekat kuburannya, dan mencatat bagi si mayat pahala dari ibadah yang dilakukan oleh malaikat itu sehingga Allah memasukkan ia ke surga. Dan dalam membaca surat Al-Qadar disertai surat Al-Falaq, An-Nas, Al-Ikhlash dan Ayat kursi, masing-masing (3 kali).”



Ketiga: Membaca doa berikut ini (3 kali):



ayat3

“Ya Allah, aku memohon pada-Mu dengan hak Muhammad dan keluarga Muhammad janganlah azab penghuni kubur ini.”



Rasulullah saw bersabda:

“Tidak ada seorang pun yang membaca doa tersebut (3 kali) di kuburan seorang mayat, kecuali Allah menjauhkan darinya azab hari kiamat.”



Keempat: Meletakkan tangan di kuburannya sambil membaca doa berikut:



ayat4

“Ya Allah, kasihi keterasingannya, sambungkan kesendiriannya, hiburlah kesepiannya, tenteramkan kekhawatirannya, tenangkan ia dengan rahmat-Mu yang dengannya tidak memerlukan kasih sayang dari selain-Mu, dan susulkan ia kepada orang yang ia cintai.”



Ibnu Thawus mengatakan: Jika kamu hendak berziarah ke kuburan orang-orang mukmin, maka hendaknya hari Khamis, jika tidak, maka waktu tertentu yang kamu kehendaki, menghadap ke kiblat sambil meletakkan tangan pada kuburannya dan membaca doa tersebut.



Muhammad bin Muslim pernah bertanya kepada Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa): Bolehkah kami berziarah ke orang-orang yang telah meninggal? Beliau menjawab: Boleh. Kemudian aku bertanya lagi: Apakah mereka mengenal kami ketika kami berziarah kepada mereka? Beliau menjawab: “Demi Allah, mereka mengenal kalian, mereka bahagia dan terhibur dengan kehadiran kalian.” Aku bertanya lagi: Apa yang baca ketika kami berziarah kepada mereka? Beliau menjawab: bacalah doa ini:

ayat6

“Ya Allah, luaskan kuburan mereka, muliakan arwah mereka, sampaikan mereka pada ridha-Mu, tenteramkan mereka dengan rahmat-Mu, rahmat yang menyambungkan kesendirian mereka, yang menghibur kesepian mereka. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

(Disarikan dari kitab Mafatihul Jinan, pasal 10, hlm 567-570)

Sunday, September 6, 2009

Malam lailatul qadar anugerah teristimewa



Oleh Nasron Sira Rahim
nasron@bharian.com.my

Ummah diminta pertingkat ibadat 10 malam terakhir Ramadan untuk ganjaran berganda

ADA satu malam rahsia yang amat istimewa pada Ramadan tetapi waktu sebenar berlakunya malam itu dirahsiakan Allah SWT daripada pengetahuan manusia.

Pada malam itu, ribuan malaikat bersiap sedia menunggu untuk mengangkat ibadat hamba Allah yang beribadat dengan penuh keimanan dan ketakwaan, dari alam dunia ke langit.

Malaikat Jibril bersama malaikat lain turun ke bumi untuk mendoakan setiap manusia yang beribadat, berzikir dan berdoa kepada Allah SWT pada malam itu dan Allah menyatakan kepada malaikat bahawa doa yang dipohon kepada-Nya ketika itu akan dimakbulkan.

Lebih istimewa adalah ibadat seorang hamba Allah pada malam itu digandakan sehingga menyamai nilai ibadat yang dilakukan selama 1,000 bulan atau selama 83 tahun empat bulan seperti firman-Nya:

“Malam lailatul qadar lebih baik daripada seribu bulan,” (al-Qadr, ayat ketiga).

Pada malam lailatul qadar itu juga, Allah memberikan nilai keampunan yang terlalu tinggi untuk hamba-Nya yang beribadat seperti sabda Rasulullah SAW:

“Barang siapa menunaikan ibadat pada malam al-Qadr dengan penuh keimanan dan pengharapan, Allah akan mengampunkan segala dosa yang sudah dilakukannya.” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim).

Demikianlah antara gambaran betapa istimewanya malam lailatul qadar, suatu malam paling mulia dan berkat yang berlaku hanya sekali dalam 365 hari, setiap tahun.

Pensyarah Jabatan Dakwah dan Pembangunan Insan, Akademi Pengajian Islam Universiti Malaya (UM), Roslan Mohamed, berkata malam lailatul qadar adalah anugerah utama Allah SWT khusus kepada umat Nabi Muhammad SAW saja malah berlaku pula hanya pada Ramadan dan tidak pada bulan lain.

“Mengikut Imam Malik, sejarah malam lailatul qadar bermula apabila Nabi Muhammad SAW sedar yang usia umat Baginda tidak sepanjang usia umat terdahulu, hanya antara 60 tahun hingga 70 tahun, malah Rasulullah SAW sendiri wafat ketika usianya 63 tahun.

“Menyedari hakikat itu, Rasulullah berdoa kepada Allah SWT memohon supaya umatnya dapat beribadat sama dengan nilai ibadat umat terdahulu lalu disebabkan kasihnya Allah SWT terhadap baginda, Allah SWT mengurniakan malam lailatul qadar,” katanya.

Imam Qurtubi pula menjelaskan bahawa dikurniakan malam lailatul qadar itu sebagai tanda cintanya Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW dan umat baginda melebihi umat lain dan dikurniakan malam istimewa itu juga bagi menghiburkan hati Rasulullah SAW.

Bagaimanapun, suatu perkara yang sering diperdebatkan ketika membicarakan soal malam lailatul qadar adalah pada malam bilakah ia akan berlaku?

“Hakikatnya tiada siapa mengetahui bila malam lailatul qadar akan berlaku termasuk Nabi Muhammad sendiri. Dalam satu kisah yang diriwayatkan Imam Muslim, diceritakan yang Rasulullah hampir memberitahu sahabat mengenai waktu berlaku lailatul qadar tetapi akhirnya tidak kesampaian,” katanya.

Selepas kerap ditanya sahabat, Allah SWT akhirnya memberi wahyu kepada Rasulullah dengan menerangkan bilakah berlakunya malam lailatul qadar.

“Selepas menerima wahyu daripada Allah SWT, Baginda berjalan untuk menemui sahabat bagi memberitahu tanda berlakunya malam itu. Bagaimanapun, ketika dalam perjalanan, Baginda menemui dua sahabat yang sedang bertengkar.

“Baginda kemudian sibuk meleraikan pertengkaran dua sahabat itu dan akhirnya Rasulullah SAW terlupa tarikh atau masa malam al-Qadr seperti diwahyukan Allah,” katanya.

Roslan berkata, kalangan ulama berpendapat bahawa antara hikmah terlupanya Rasulullah SAW akan tanda-tanda malam lailatul qadar adalah supaya manusia berusaha sendiri mencari malam berkenaan.

Ulama silam, Syeikh Ahmad Abduh yang turut berpandangan sedemikian menyebut bahawa Allah hanya memberikan hidayah kepada mereka yang berusaha mencarinya sekali gus menggambarkan yang malam lailatul qadar hanya akan diberi kepada mereka yang ikhlas beribadat pada 10 malam terakhir Ramadan.

Ulama lain pula berpendapat yang dirahsiakan malam 1,000 bulan itu kerana membabitkan persoalan ketentuan qada dan qadar Allah SWT.

“Jika Nabi Muhammad SAW sudah memberitahu waktu berlakunya malam lailatul qadar, maka tidak ramai lagi umat Islam akan berusaha sebaliknya hanya menunggu dan beribadat pada malam itu saja dan tidak pada malam lain,” katanya.

Penelitian terhadap hadis Rasulullah SAW mendapati Baginda sekadar menyatakan malam lailatul qadar itu berlaku pada 10 malam terakhir Ramadan selain malam ganjil pada 10 malam terakhir Ramadan serta terdapat hadis menyatakan pada malam 27 Ramadan.

Malam lailatul qadar penuh dengan rahmat kepada umat Islam yang patuh mengerjakan ibadat sepanjang Ramadan.

Beberapa ulama muktabar antaranya Imam Nawawi dan Ibnu Hazm berpendapat bahawa malam lailatul qadar bergilir dari setahun ke setahun, misalnya jika tahun ini berlaku pada malam 21 Ramadan, tahun hadapan akan berlaku pada malam 23 Ramadan.

Jumhur ulama menyatakan lailatul qadar berlaku pada malam 27 Ramadan berdasarkan hadis daripada Ubai ibn Kaab:

“Bahawa Rasulullah SAW memerintahkan kami menunaikan ibadat pada malam itu dan awal pagi 27 Ramadan, tandanya ialah matahari pada awal pagi dalam keadaan tenang, putih dan tidak pucat cuacanya,” (riwayat Tirmizi).

Sahabat Rasulullah SAW, Ibnu Abas pula berijtihad bahawa malam lailatul qadar adalah malam ke-27 Ramadan berdasarkan penelitiannya terhadap rahsia surah al-Qadr.

Beliau mendapati ada 30 perkataan dalam surah berkenaan dan perkataan ‘Salamun Hiya’ (Sejahteralah malam itu) terletak pada perkataan ke-27.

“Bagaimanapun, apa yang Nabi Muhammad SAW tuntut bukanlah untuk mencari bilakah malam itu akan berlaku tetapi Baginda menyuruh supaya kita beribadat sebanyak mungkin pada 10 hari terakhir Ramadan.

“Itu yang patut diperbetulkan dalam persepsi masyarakat dan diamalkan, malah sunnah Rasulullah, baginda sendiri menghidupkan 10 malam terakhir Ramadan.

“Jika kita kita beribadat terus-terusan pada 10 malam terakhir Ramadan, maka kita pasti akan beribadat pada malam lailatul qadar malah kita tidak akan rugi apa-apapun jika beribadat pada malam selain malam itu,” katanya.

Justeru, seperti juga saranan Ibnu Qayyim, umat Islam seharusnya memperbanyakkan ibadat pada malam itu dengan membaca al-Quran, berzikir, beristighfar dan bertaubat, bertahajud, memohon doa, bersedekah jariah, bermuhasabah, bertafakur dan menangisi segala dosa silam.

Amalan mulia pada 10 malam terakhir Ramadan wajar diteruskan pada bulan lain, kerana ia boleh membentuk peribadi dan akhlak Muslim sejati. Ibadat tidak sepatutnya pada Ramadan saja kerana hubungan Allah dan umat Islam perlu sentiasa diperkukuhkan.

Sikap syukur kepada rahmat Allah akan mendekatkan manusia dengan pencipta-Nya. Perbanyakkan amalan pada 10 malam terakhir Ramadan, akan membentuk peribadi Muslim yang takwa dan sujud kepada Allah.

Terjemahan Surah Al Qadr
1. Sesungguhnya Kami telah menurunkan (Al quran) pada malam kemuliaan.
2. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?
3. Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.
4. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.
5. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.

Thursday, September 3, 2009

Ayam Panggang Tin Chef Cik Wan

Pada 30hb Cik Uji dan Cik Pidah pula sampai. Tapi Pak Teh & family bertolak pulang pada petang tu. Cik Wan telah bawa resipi baru yg dibawa dari Pasir Gudang walaupun sumber asalnya dari Internet," Ayam Panggang Tin" namanya, bunyi mcm pelik sikit kan? Tengoklah gambar2 projek kita orang kat bawah tu...Meriah jugak petang tu macam nak raya esok, tapi esoknya pun mmg Hari Merdeka, jadi tema kami ialah 'SatuTin' heheh...mgkin ada yang berpendapat rupa ayam setelah masak tu mcm sedih skit, tapi rasanya pergh Kenny Rogers pun kalah hehe...sampai kitaorg plan nak eksport ke luar negara tu huhu...ok tengoklah gambar2 kat bawah ni..